Tafakur di Dunia Kuantum
Beberapa waktu yang lalu, sebuah video tentang film superhero, lewat di feed YouTube. Bukan alur ceritanya yg dibahas, tapi pandangan sains tentang film itu. Dan... itu mengingatkan saya pada salah satu momen ketika kuliah kimia dulu, saat saya diperkenalkan dengan Teori Kuantum.
Bukan kuantum seperti quantum learning atau quantum teaching yang sering terdengar, tapi teori fisika yang benar-benar bisa membalikkan cara kita memandang dunia. Teori yang membuat saya tidak hanya kagum pada alam semesta, tapi juga pada kebesaran Allah yang menciptakannya.
Dalam kelas mekanika kuantum kala itu, setiap penjelasan ilmiah terasa seperti ajakan untuk bertafakur. Kami tak sekadar belajar konsep sains, rumus dan persamaan, tapi juga belajar bagaimana ilmu bisa menjadi jalan untuk mengenal Allah.
Fisika kuantum itu mempelajari perilaku bagian-bagian terkecil alam semesta, atom, elektron, dan foton. Dan salah satu konsep yang membuat hati saya terkesan adalah teori superposisi.
Secara sederhana, teori ini mengatakan bahwa sesuatu bisa berada di dua atau lebih keadaan sekaligus, sampai seseorang melihatnya. Begitu diamati, barulah ia “memilih” satu keadaan.
Bayangkan sebuah elektron bisa berada di sini dan di sana pada waktu yang sama, bisa berupa partikel dan sekaligus gelombang.
Fenomena ini membuat banyak ilmuwan kebingungan. Bagaimana mungkin sesuatu bisa belum jadi, tapi juga sudah jadi pada waktu yang sama? Di sinilah saya merasa ilmu modern justru sedang menyingkap sedikit tirai keajaiban ciptaan Allah.
Ketika kemarin mendengar teori ini lagi, saya diingatkan pada firman Allah dalam Surat Yasin ayat 82:
“Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: ‘Jadilah!’ maka jadilah ia.”
Ayat ini seperti menjelaskan bahwa segala sesuatu di alam semesta berawal dari kehendak Allah. Sebelum “dijadikan”, semuanya masih dalam bentuk potensi, belum tampak, tapi sudah mungkin. Dan ketika Allah berkehendak, satu dari sekian banyak kemungkinan itu menjadi nyata.
Ilmuwan menyebutnya pengamatan, orang beriman menyebutnya kehendak Allah.
Dalam dunia kuantum, realitas menunggu diamati untuk menjadi nyata.
Dalam dunia iman, takdir menunggu izin Allah untuk menjadi kenyataan.
Maka, do’a dan ikhtiar kita bisa dipandang sebagai bentuk “pengamatan” spiritual. Bukan karena kita menciptakan realitas, tapi karena kita sedang menyelaraskan diri dengan kehendak Allah, Sang Pencipta yang menentukan mana dari sekian potensi itu yang akan diwujudkan.
Teori superposisi seolah mengingatkan bahwa realitas yang kita lihat tidak sesederhana hitam dan putih. Di balik setiap kejadian, ada lapisan-lapisan kemungkinan yang hanya Allah ketahui.
Jadi, ketika do’a kita belum terkabul, jangan pernah menganggap kalau Allah tak menjawab.
Mungkin, di alam kemungkinan yang tak mampu kita jangkau dengan panca indera itu, sesuatu sedang menunggu perintah untuk “menjadi”, di waktu terbaik dengan cara terbaik.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
@yusi_nur
https://uc-nur.blogspot.com/2025/11/tafakur-di-dunia-kuantum.html?m=1
Komentar
Posting Komentar