Mendengar Suara yang Tak Kita Duga
Kadang, yang membuat kita menutup telinga bukan karena isi perkataan seseorang, tapi karena siapa yang mengatakannya. Jika suara itu datang dari orang yang kita anggap “lebih rendah” —entah secara usia, pengalaman, jabatan, atau ilmu— kita sering tanpa sadar sudah menaruh tanda tanya bahkan sebelum mendengarkannya. Rasanya, seolah yang boleh memberi masukan hanyalah mereka yang berada “di atas” kita. Ada yang bilang ini soal ego. Ada juga yang menyebutnya soal hierarki yang tertanam kuat di kepala. Mungkin benar keduanya. Kita terbiasa dengan urutan: yang di atas bicara, yang di bawah mendengarkan. Saat urutan itu terbalik, ada perasaan janggal, seperti sesuatu yang tak seharusnya terjadi. Apalagi kalau dalam hati kita merasa sudah jauh melangkah, sementara orang itu baru memulai. Namun di titik inilah kita sering kehilangan kesempatan. Kita lupa bahwa kebenaran tak pernah memilih mulut siapa yang akan mengucapkannya. Ia bisa datang dari guru besar yang disegani, atau dari anak magang ...