Langsung ke konten utama

Postingan

Unggulan

Mendengar Suara yang Tak Kita Duga

Kadang, yang membuat kita menutup telinga bukan karena isi perkataan seseorang, tapi karena siapa yang mengatakannya. Jika suara itu datang dari orang yang kita anggap “lebih rendah” —entah secara usia, pengalaman, jabatan, atau ilmu— kita sering tanpa sadar sudah menaruh tanda tanya bahkan sebelum mendengarkannya. Rasanya, seolah yang boleh memberi masukan hanyalah mereka yang berada “di atas” kita. Ada yang bilang ini soal ego. Ada juga yang menyebutnya soal hierarki yang tertanam kuat di kepala. Mungkin benar keduanya. Kita terbiasa dengan urutan: yang di atas bicara, yang di bawah mendengarkan. Saat urutan itu terbalik, ada perasaan janggal, seperti sesuatu yang tak seharusnya terjadi. Apalagi kalau dalam hati kita merasa sudah jauh melangkah, sementara orang itu baru memulai. Namun di titik inilah kita sering kehilangan kesempatan. Kita lupa bahwa kebenaran tak pernah memilih mulut siapa yang akan mengucapkannya. Ia bisa datang dari guru besar yang disegani, atau dari anak magang ...

Postingan Terbaru

Berani Berpikir Ulang (Belajar dari buku Think Again-Adam Grant)

Saat diri tak tahu bahwa dia tidak tahu

Belajar Tanpa Berpikir

Mental Kepiting: Penyakit Hati Terselubung yang Diam-Diam Menggerogoti Diri

Tafakur di Dunia Kuantum

Ketika Emoji Gagal Menyelamatkan Hati

Sepotong realita

Musafir & Pohon Kurma

Tentang mengajar

Manusia Penebar Manfaat