Belajar Tanpa Berpikir

Pernahkah kita bertanya, mengapa banyak orang fasih mengikuti prosedur, tapi tercekat ketika diminta memutuskan arah? Mengapa begitu banyak nilai tinggi di raport, tetapi begitu sedikit kemampuan untuk berargumentasi dan menganalisa?

Hal itu mungkin bukan karena kurang belajar, tapi justru karena terlalu lama dibiasakan untuk belajar menerima tanpa bertanya. Mungkin… kita terlalu lama belajar tanpa benar-benar berpikir.

Pada tahun 2022, Programme for International Student Assessment (PISA) yang dirilis oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), mengevaluasi kemampuan berpikir kreatif siswa berusia 15 tahun. Dan hasilnya, siswa Indonesia mendapatkan skor Creative Thinking jauh di bawah rata-rata. Hanya 19 poin dari 60 poin maksimal. 

Artinya, kemampuan untuk menghasilkan, mengevaluasi, dan meningkatkan ide-ide guna menghasilkan solusi yang orisinal dan efektif, mengembangkan pengetahuan, dan menciptakan ekspresi imajinasi yang berdampak, masih sangat rendah. Kira-kira, apa penyebabnya?

Pertanyaan itu mengajak saya untuk merenung sejenak. Selama hampir dua belas tahun mengajar, saya bertemu guru-guru dengan semangat yang beragam. Ada yang menghidupkan kelas dengan cerita dan eksperimen. Ada yang memancing rasa ingin tahu lewat percakapan dan dialog hangat. 

Tetapi ada juga yang hanya membuka buku, membaca baris demi baris, dan memastikan semua disampaikan persis seperti tertulis. Bukan karena mereka tak acuh dengan anak didiknya, sering kali justru karena mereka ingin “aman”, setia pada arahan, mengikuti sistem, dan tidak melenceng dari yang tertulis.

Di kelas seperti itu, murid hadir secara fisik, tetapi pikirannya jarang diajak berpetualang. Mereka mendengar, mencatat, menghafal… lalu mengulang. Belajar berubah menjadi rutinitas, bukan proses menemukan.

Masih ingat Taksonomi Bloom? Dalam pemodelan hierarkis itu, kemampuan kognitif seseorang digambarkan dalam enam tingkat kemapuan berpikir. Dimulai dari mengingat, memahami, menerapkan, menganalisa, mengevaluasi hingga mencipta. 

Namun ketika pembelajaran dibangun hanya dengan membaca buku teks tanpa ruang dialog, pembelajaran nyaris berhenti di dua tingkat terendah. Mereka tahu, tapi tidak mempertanyakan. Mereka mengenali, tapi tidak mengolah. 

Mereka belajar, tanpa benar-benar berpikir.
Padahal banyak studi telah menunjukkan bahwa kemampuan menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta tidak tumbuh dari ceramah, tetapi dari kesempatan bertanya, berdiskusi, dan menyusun pemikiran sendiri. 

Yang sering terlupakan adalah buku teks itu sebenarnya alat bantu. Ia kompas, bukan peta mutlak. Ia memberi arah, tapi tidak harus menentukan setiap langkah. Ketika guru dibatasi untuk hanya mengikuti buku secara harfiah, maka yang hilang bukan sekadar kreativitas, tetapi juga peluang untuk memantik rasa ingin tahu yang paling alami dalam diri pembelajar.

Namun, perubahan selalu mungkin, dan terkadang perubahan bermula dari sesuatu yang sederhana seperti memberi sedikit ruang untuk bertanya, memberi kesempatan murid mengutarakan pendapat, atau memberi guru kepercayaan untuk menafsirkan materi sesuai kebutuhan kelasnya.

Dan akhirnya, creative thinking kita rendah bukan karena otak kita kurang pintar, tapi karena ruang untuk berpikir terlalu sering ditutup rapat. Kita terbiasa menerima sebelum sempat bertanya, menyelesaikan sebelum sempat memahami. 

Jadi, selama rasa ingin tahu dianggap gangguan, maka kreativitas pun akan sulit menemukan jalan.

Komentar

Postingan Populer