Ketika Emoji Gagal Menyelamatkan Hati

Pernah nggak, lagi baca pesan di grup WhatsApp, tiba-tiba dada terasa hangat seolah ada di kisaran suhu 373 Kelvin ☺️✌🏻, jari gatal pengen langsung bales, padahal isinya cuma kalimat biasa?

Tenang... bukan cuma satu-dua orang kok yang begitu. Fenomena ini ternyata malah cukup umum dan banyak ahli psikologi yang menyebutnya sebagai defensive reaction, reaksi spontan untuk melindungi diri dari hal yang mengancam harga diri, walau ancamannya sebenarnya tidak nyata. Dan faktanya adalah kadang bukan isi chat-nya yang bikin deg-degan, tapi cara hati kita membaca nada di baliknya.

Daniel Goleman dalam bukunya, Emotional Intelligence bilang, otak manusia punya mekanisme cepat tanggap terhadap ancaman. Bedanya, di zaman dulu ancaman itu harimau, sekarang bisa berbentuk teks di WhatsApp. πŸ˜„ Contohnya saat merasa tersentil, bagian otak emosional alias amigdala kita langsung aktif, bahkan sebelum bagian rasional sempat menafsirkan konteksnya. Maka terjadilah, pesan netral terasa nyentil, diskusi terasa sindiran, dan obrolan komunal terasa seolah personal.

John Bowlby, lewat teori attachment-nya menjelaskan bahwa cara kita menafsirkan interaksi hari ini sering kali berakar dari pengalaman masa lalu. Kalau dulu sering dikritik tanpa penjelasan, terbiasa merasa harus “membela diri” untuk diakui dan diterima, bisa jadi sekarang kita cepat curiga ketika seseorang mengoreksi atau memberi masukan dan punya kecenderungan menafsirkan semua perbedaan pendapat sebagai ancaman. Artinya hati masih membawa “mode bertahan,” bukan “mode berkembang.”

Selain itu, cara seseorang memandang dirinya sendiri juga berpengaruh besar. Ketika citra diri masih rapuh, kritik kecil atau masukan ringan bisa terasa berat. Bukan karena kata-katanya yang terlalu tajam, tapi karena menyentuh bagian diri yang belum siap diterima. 
Dan, Carl Rogers, tokoh besar psikologi humanistik, menambahkan bahwa manusia punya kebutuhan dasar untuk diterima tanpa syarat (unconditional positive regard). Ketika kebutuhan itu belum terpenuhi, seseorang bisa mudah tersinggung, bukan karena pesan orang lain salah, tapi karena dirinya masih mencari rasa aman dalam hubungan sosialnya.

Maka kalau suatu hari ada pesan yang bikin dada menghangat, mungkin perlu jeda sebelum jari mengetik balasan. Tanyakan pelan-pelan ke diri sendiri:
“Apakah dia benar sedang menyindirku, atau hanya aku yang sedang membaca dengan luka lamaku?”

Kadang yang perlu diperbaiki bukan media komunikasi tulisannya, tapi filter perasaan di balik mata yang membaca. Karena pesan di layar bisa sama, tapi maknanya bisa berubah tergantung siapa yang menerimanya, dan seberapa tenang hatinya saat membaca tulisan itu.

Jadi, sebelum buru-buru balas, mungkin cukup tarik napas dulu. Siapa tahu, ternyata yang kita kira serangan itu… cuma hasil olah pikir atau curahan hati biasa yang kebetulan dibaca di waktu hati kita sedang lelah. πŸ˜„

#BrainDumpRabu

@yusi_nur

Komentar

Postingan Populer