Saat diri tak tahu bahwa dia tidak tahu

Beberapa waktu lalu saya menemukan satu istilah menarik: Dunning-Kruger Effect. 

Istilah ini menjelaskan kenapa ada orang yang kapasitasnya masih terbatas, tetapi merasa dirinya sudah cukup ahli, bahkan mengira orang lain “kurang lebih sama saja” dengan dirinya. Semakin saya pelajari, semakin terasa betapa sering kita menemui fenomena ini, di pekerjaan, di organisasi, bahkan dalam percakapan sehari-hari.

Fenomena ini bukan tentang merendahkan siapa pun, tetapi tentang bagaimana keterbatasan pengetahuan membuat seseorang tidak mampu melihat batasnya sendiri dan otomatis tidak mampu menilai kemampuan orang lain dengan tepat. 

Kadang seseorang benar-benar tidak sadar bahwa pemahamannya masih dangkal, bukan karena ia tidak mau belajar, melainkan karena ia belum punya kapasitas untuk menyadari bahwa ilmunya masih berada di permukaan.

Untuk memudahkan, bayangkan seseorang memakai HP lama yang super lemot. Buka WhatsApp muter, buka kamera gagal, buka foto loading dulu 10 detik. Tapi dengan penuh keyakinan dia berkata, “Emang semua HP juga gini, kan?” Padahal HP orang lain mulus 120 fps, pindah aplikasi secepat kedipan mata.

Jadi masalahnya bukan di dunia luar, bukan di aplikasinya, dan bukan di internetnya. Masalahnya ada di HP dia sendiri. Memorinya penuh file tak penting, cache tidak pernah dibersihkan, software tidak pernah di-update, RAM sudah tidak sanggup menangani aplikasi zaman sekarang.

Begitu juga dengan seseorang yang kapasitasnya masih terbatas dalam suatu bidang. Karena “mesin pemroses” internalnya belum kuat, ia benar-benar tidak bisa membedakan mana yang ahli dan mana yang tidak, mana yang berkualitas tinggi dan mana yang standar rendah. Maka wajar jika ia merasa, “Semua orang sama seperti saya.” Bukan karena fakta, tapi karena kapasitas pemrosesannya belum memadai untuk melihat perbedaannya.

Fenomena ini muncul karena seseorang yang pemahamannya masih dangkal sering tidak menyadari bahwa sesuatu yang tampak sederhana sebenarnya memiliki tingkat kesulitan yang belum ia pahami. Ia juga tidak punya alat penilaian yang memadai, seperti HP jadul yang tidak bisa menampilkan video HD. 

Kadang, menganggap semua orang sama adalah cara mudah untuk melindungi ego. Kalau semua orang sama, ia tidak perlu merasa tertinggal atau salah. Sementara itu, orang yang benar-benar kompeten justru lebih rendah hati karena semakin belajar, semakin terasa betapa luasnya hal yang belum diketahui.

Dampaknya bisa kita lihat di mana-mana. Dalam rapat, diskusi publik, organisasi, hubungan kerja, bahkan dalam percakapan sehari-hari kita. Orang yang kapasitasnya masih terbatas sering kali justru paling yakin. Yang pemahamannya dangkal bisa jadi paling lantang. Ironisnya, keyakinan mereka semakin menguat justru karena wawasan mereka terbatas, mereka tidak tahu apa yang tidak mereka tahu.

Lalu apa yang bisa kita lakukan? Tentu bukan memojokkan. Mengajak berdialog pelan-pelan lebih efektif daripada membantah keras-keras. Memberi contoh lebih berarti daripada berdebat tanpa ujung. 

Kadang yang kita butuhkan adalah membantu orang “update sistem operasi mentalnya” lewat belajar yang berkelanjutan. Saat pemahaman bertambah, layar pikiran menjadi lebih terang. Perbedaan kualitas mulai terlihat. Dan orang mulai menyadari, “Ternyata bukan orang lain yang sama… saya yang belum melihat dengan jelas.”

Pada akhirnya, semua orang bisa berubah. Kita bisa menambah RAM pengetahuan, membersihkan cache asumsi keliru, atau memperbarui software cara berpikir. Yang dibutuhkan hanya satu hal: kerendahan hati untuk mengakui bahwa mungkin selama ini kita sedang nge-lag. Dan dari kesadaran itulah perjalanan belajar bisa dimulai dengan lebih ringan, lebih jujur, dan lebih membuka peluang untuk bertumbuh.

Komentar

Postingan Populer