Berani Berpikir Ulang (Belajar dari buku Think Again-Adam Grant)
“What we know keeps us from learning.” (apa yang sudah kita tahu menghalangi kita dari belajar)
— Adam Grant
Seringkali kita merasa percaya diri karena sudah cukup tahu, sudah cukup paham, atau merasa pengalaman dan ilmu yang dimiliki lebih tinggi dari orang lain. Rasa percaya diri itu wajar, tetapi ketika rasa “sudah tahu” berubah menjadi tembok, ia justru menutup jalan bagi pertumbuhan. Adam Grant dalam Think Again mengajak kita untuk berhenti merasa selalu benar dan mulai berani meragukan diri sendiri.
Belajar meragukan diri bukan berarti meremehkan kemampuan sendiri. Tapi memberi ruang untuk melihat hal-hal yang selama ini terlewat, menerima kritik sebagai cermin, dan menyesuaikan sudut pandang tanpa kehilangan integritas. Mental yang sehat, atau bisa juga disebut mental fitness, adalah kemampuan untuk tetap tenang, adaptif, dan mampu menyesuaikan diri dengan situasi atau orang di sekitar, tanpa terjebak ego atau menjadi defensif.
Grant dalam bukunya, menekankan pentingnya menjadi “scientist” bagi diri sendiri, yaitu selalu meneliti, mengumpulkan bukti, dan bersedia menyesuaikan pendapat ketika data baru muncul. Namun, menjadi ilmuwan untuk diri sendiri bukanlah proses yang selalu mulus. Melepaskan pendapat lama seringkali terasa seperti kekalahan pribadi, menimbulkan ketidaknyamanan psikologis yang disebut cognitive dissonance. Dan mental fitness kita justru diuji di sini, yaitu tentang bagaimana kita mampu menahan ketidaknyamanan sementara ini demi pemahaman yang lebih baik, ibarat otot yang sakit setelah latihan untuk menjadi lebih kuat.
Mental yang sehat memungkinkan kita melakukan ini dengan lebih mulus karena kita belajar menjaga pikiran tetap terbuka dan emosi tetap stabil saat menghadapi kritik atau perbedaan pendapat. Orang dengan mental sehat tahu kapan harus bertahan pada keyakinan, dan kapan harus fleksibel untuk belajar atau beradaptasi. Mampu memegang teguh nilai-nilai inti (tsawabit) namun bersikap adaptif dalam pendapat, strategi dan asumsi teknis (mutaghayyirat).
Konsep ini juga berlaku dalam hubungan dengan orang lain. Mengubah pikiran orang lain atau membangun kerja sama tidak bisa dilakukan dengan memaksa. Dengan mental yang sehat, kita bisa memulai percakapan dari pertanyaan, memahami sudut pandang mereka, dan menyajikan bukti atau masukan secara bertahap. Lingkungan yang mendorong diskusi terbuka, kritik yang konstruktif, dan pertanyaan yang menantang akan terasa lebih aman bagi semua pihak, sehingga tim atau kelompok dapat berkembang lebih cepat.
Kerendahan hati dan mental fitness ini berjalan beriringan. Orang yang mau menimbang masukan, mendengar kritik, menyesuaikan diri dengan situasi, dan tetap menjaga keseimbangan emosional akan dihargai lebih daripada mereka yang hanya ingin terlihat benar. Budaya belajar tumbuh ketika mempertanyakan dianggap wajar, kesalahan dipandang sebagai peluang memperbaiki, dan setiap orang mampu menyesuaikan diri tanpa kehilangan jati diri.
Ukuran sejati seseorang bukan hanya seberapa banyak ia tahu, tetapi seberapa besar ia bersedia membuka diri untuk belajar, menyesuaikan diri secara mental dengan lingkungan, dan tetap adaptif menghadapi perubahan. Pengetahuan yang tidak pernah diuji ulang menjadi beban, sementara keberanian untuk terus bertanya adalah kunci untuk tetap berkembang, berinovasi dan membangun hubungan yang sehat.
π Referensi
Adam Grant, Think Again: The Power of Knowing What You Don’t Know (Viking, 2021)
Komentar
Posting Komentar