Mendengar Suara yang Tak Kita Duga
Kadang, yang membuat kita menutup telinga bukan karena isi perkataan seseorang, tapi karena siapa yang mengatakannya. Jika suara itu datang dari orang yang kita anggap “lebih rendah” —entah secara usia, pengalaman, jabatan, atau ilmu— kita sering tanpa sadar sudah menaruh tanda tanya bahkan sebelum mendengarkannya. Rasanya, seolah yang boleh memberi masukan hanyalah mereka yang berada “di atas” kita.
Ada yang bilang ini soal ego. Ada juga yang menyebutnya soal hierarki yang tertanam kuat di kepala. Mungkin benar keduanya. Kita terbiasa dengan urutan: yang di atas bicara, yang di bawah mendengarkan. Saat urutan itu terbalik, ada perasaan janggal, seperti sesuatu yang tak seharusnya terjadi. Apalagi kalau dalam hati kita merasa sudah jauh melangkah, sementara orang itu baru memulai.
Namun di titik inilah kita sering kehilangan kesempatan. Kita lupa bahwa kebenaran tak pernah memilih mulut siapa yang akan mengucapkannya. Ia bisa datang dari guru besar yang disegani, atau dari anak magang yang baru sehari masuk. Ia bisa disampaikan oleh orang yang kita kagumi, atau oleh seseorang yang bahkan namanya jarang kita ingat.
Greg Lukianoff dan Jonathan Haidt pernah menulis tentang kerendahan hati intelektual —pengakuan bahwa nalar kita rapuh, bias kita banyak, dan karena itu kita jarang benar sepenuhnya. Jika kita mau mengakui keterbatasan ini, maka kita akan lebih mudah membuka telinga, bahkan untuk suara yang awalnya terasa tak pantas didengar.
Mark Leary dari Universitas Yale juga menemukan bahwa orang yang rendah hati secara intelektual cenderung punya hubungan yang lebih sehat, mampu mengelola konflik dengan bijak, dan punya empati lebih besar. Mungkin karena mereka tak sibuk mempertahankan “siapa yang benar”, tapi lebih ingin mencari “apa yang benar”.
Mendengar pendapat dari orang yang kita anggap “di bawah” memang butuh keberanian. Bukan karena sulit menelan isinya, tapi karena kita harus menundukkan kepala dan mengakui bahwa nilai sebuah ide tidak ditentukan oleh status pembawanya. Dan di momen itu, kita akan tahu bahwa mengakui kebenaran dari siapa pun tidak mengurangi derajat kita, justru menambahnya.
Jangan menolak mutiara hanya karena ia ditemukan di tangan yang berdebu. Sebab bisa jadi, justru mutiara itulah yang selama ini kita cari.
Komentar
Posting Komentar