Antara Katanya dan Realita
*#aGentleReminder*
Kita terlihat berbeda di mata orang yang berbeda.
Karena itu, Islam mengajarkan kita untuk berhati-hati dalam menilai manusia.
Sering kali kita mengenal seseorang hanya dari "katanya". Baik berupa cerita, label, ataupun penilaian yang lahir dari satu pengalaman atau satu emosi sesaat.
Padahal, apa yang baru sebatas "katanya" tidak layak dijadikan kebenaran mutlak tentang siapa seseorang sebenarnya.
Para ulama pun telah mengingatkan, bahwa seseorang baru benar-benar kita kenal ketika kita melihatnya dalam perjalanan (safar), saat berurusan dalam amanah dan harta (muamalah), serta ketika ia diuji oleh tanggung jawab dan keadaan yang sulit.
Sebab di situlah akhlak berbicara lebih jujur daripada kata-kata.
Walaupun begitu, kenyataannya tidak ada manusia yang pernah kita kenal secara utuh. Yang kita temui hanyalah bagian yang Allah perlihatkan dalam satu pertemuan, satu kondisi, dan satu waktu tertentu.
Maka sebelum menghakimi, berhentilah sejenak dan luruskan niat.
Sebelum mempercayai cerita tentang seseorang, jagalah hati dari prasangka, karena prasangka bisa menjerumuskan tanpa kita sadari.
Dan sebelum mendefinisikan siapa ia, bersabarlah hingga Allah memperkenalkan akhlaknya melalui waktu dan peristiwa.
Karena setiap manusia adalah hamba Allah yang sedang berproses, dan seseorang itu selalu lebih luas nilainya daripada cerita yang pernah sampai ke telinga kita.
@yusi_nur
Komentar
Posting Komentar